page contents

STT Lukas Online slide 1 title

STT Lukas Online GoBlog.

STT Lukas Online slide 2 title

STT Lukas Online GoBlog.

STT Lukas Online Slide 3 title

STT Lukas Online Go-Blog.

STT Lukas Online slide 4 title

STT Lukas Online Go-Blog.

STT Lukas Online slide 5 title

STT Lukas Online Go-Blog.

Pcash

Thursday, August 4, 2016

Pengalaman unik

Pengalaman unik

Monday, May 23, 2016

Daftar isi

Kontak

STT Lukas Online dengan alamat blog http://sttlukas.blogspot.co.id/ adalah sebuah media berbasis weblog yang dirancang untuk mewujudkan dalam bentuk tulisan tindakan simbolis dari Ayahanda Lukas Daud Muanley yang mewariskan pena kepada saya sebelum ia mengakhiri hidupnya. Itulah sebabnya blog ini dinamakan STT LUKAS ONLINE. Dalam weblog ini akan mengulas atau mempsoting tentang dunia pendidikan Kristen, seperti penjelasan cara membuat silabus, cara membuat RPP dan contoh-contoh RPP, perumusan standar kompetensi dan contoh-contoh, rekonstruksi materi pelajaran yang bersifat unik, selain itu bahan renungan, inspirasi dan motivasi dan beberapa topik yang menarik dalam bisnis online seperti: Menjadi Publisher (penerbit iklan) sebagai peluang menggunakan internet secara sehat untuk mendapat penghasilan. Untuk maksud ini, dalam blog ini akan diposting hal-hal yang berhubungan dengan usaha menjadi Publisher. Menjadi publisher dapat berdampak pada perbaikan kesejahteraan sehingga meminimalisasi pengangguran.
STT Lukas Online hadir memberi kontribusi dalam edukasi, sehingga akan memperkaya para pengunjung yang punya passion yang sama atau yang diposting dalam weblog ini. Silakan kirim kepada kami masukan dan kritik Anda melalui halaman kontak atau melalui komentar.
Akhrinya, semoga isi weblog ini berguna untuk kemajuan edukasi di Indonesia

Salam
STT Lukas Online

Kami senang atas kunjungan Anda ke blog STT Lukas Online. Bagi pembaca blog yang ingin menghubungi kami maka dapat dilakukan melalui email ke: sttlukasonline@gmail.com atau melalui google Plus. Dapat juga menghubungi kami di: 081388662585


Terimakasih

About

STT Lukas Online dengan alamat blog http://sttlukas.blogspot.co.id/ adalah sebuah media berbasis weblog yang dirancang untuk mewujudkan dalam bentuk tulisan tindakan simbolis dari Ayahanda Lukas Daud Muanley yang mewariskan pena kepada saya sebelum ia mengakhiri hidupnya. Itulah sebabnya blog ini dinamakan STT LUKAS ONLINE. Dalam weblog ini akan mengulas atau mempsoting tentang dunia pendidikan Kristen, seperti penjelasan cara membuat silabus, cara membuat RPP dan contoh-contoh RPP, perumusan standar kompetensi dan contoh-contoh, rekonstruksi materi pelajaran yang bersifat unik, selain itu bahan renungan, inspirasi dan motivasi dan beberapa topik yang menarik.
STT Lukas Online hadir memberi kontribusi dalam edukasi, sehingga akan memperkaya para pengunjung yang punya passion yang sama atau yang diposting dalam weblog ini. Silakan kirim kepada kami masukan dan kritik Anda melalui halaman kontak atau melalui komentar.
Akhrinya, semoga isi weblog ini berguna untuk kemajuan edukasi di Indonesia

Salam

STT Lukas Online

Standar Kompetensi Mata Kuliah Pembentukan Kepribadian

Bagi Dosen pemula yang akan mengajar di STT dan sedang mencari rumusan standar kompetensi Mata Kuliah rumpun Mata Kuliah Pembentukan Kepribadian, maka postingan berikut ini dapat dijadikan sebagai refrensi menyusun Standar Kompetensi akan mata kuliah yang diasuhnya.


       1.      Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Standar Kompetensi

Kompetensi yang hendak diwujudkan dalam diri mahasiswa yang mengikuti mata kuliah kewarganegaraan yaitu setelah interaksi (proses pembelajaran) selama satu semester, maka “mahasiswa sebagai orang Kristen dapat menunjukkan kemampuannya dalam hal menjelaskan pengertian tentang pancasila, UUD 1945 dan amandemennya, serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara Indonesia.” (Mampu menjelaskan dan menerapkan)

Berdasarkan tujuan tersebut di atas, para dosen dapat mencari materi yang relevan dengan tujuan mata kuliah. Materi yang dicari dapat dikembangkan dalam bentuk Kompetensi Dasar. Secara teori dapat dikembangkan dalam tiga sampai tujuh Kompetensi Dasar.
Contoh:
KD 1. Menjelaskan pengertian dan lahirnya Pancasila
KD 2. Menjelaskan  Undang-undang dan Amandemen UUD 1945
KD 3. Menjelaskan wawasan Nusantara
KD 4. Menjelaskan wawasan Nusantara
KD 5. Menghayati kewajiban Bela Negara dan Demokrasi
KD 6. Mengidentifikasi Masalah HAM, Pembangunan Nasional
KD 7. Mengaplikasikan Nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sebagai orang
           Kristen

       2.      Mata Kuliah Komunikasi

Standar Kompetensi:

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian komunikasi yang efektif dan menerapkannya dalam kehidupan pelayanan di Sekolah, Gereja dan masyarakat.

Berdasarkan Standar Kompetensi (Tujuan Mata Kuliah) tersebut di atas, para dosen yang mengajar Mata Kuliah Komunikasi dapat memilih beberapa Kompetensi Dasar (KD) yang dikembangkan dari Standar Kompetensi. Disini Kompetensi Dasar yang dibuat untuk mata kuliah Komunikasi adalah sbb:

KD 1. Menjelaskan pengertian komunikasi
KD 2. Menjelaskan teori prinsip-prinsip Komunikasi  secara umum
KD 3. Menjelaskan teori prinsip-prinsip Komunikasi Kristiani
KD 4. Memanfaatkan Informasi
KD 5. Memanfaatkan Teknologi Komunikasi
KD 6. Memanfaatkan Teknologi Data
KD 7. Praktik Komunikasi


       3.      Mata Kuliah Sosiologi

Standar Kompetensi:

Mampu merekonstruksi pengetahuan yang memadai tentang teori sosiologi dan menerapkannya dalam pelayanan di sekolah, Gereja dan masyarakat.

Berdasarkan rumusan tujuan tersebut di atas maka Standar Kompetensi Sosiologi dikembangkan dalam Beberapa Kompetensi Dasar, yaitu:

KD 1. Menjelaskan pengertian Sosiologi
KD 2. Menjelaskan ruang lingkup sosiologi
KD 3. Menjelaskan proses sosial
KD 4. Menjelaskan kelompok-kelompok sosial dan budaya masyarakat setempat
KD 5. Refleksi Teologis-sosiologis
KD 6. Bentuk-bentuk Strata Sosial
KD 7. Manfaat Sosiologi dalam pelayanan Gereja dan Kependidikan Gereja

       4.      Bahasa Inggris

Standar Kompetensi:

Mahasiswa mampu menguasai pengetahuan bahasa Inggris dan menggunakannya dalam pelayanan sebagai calon pendeta dan pendidik Kristen.

       5.      Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar baik dalam percakapan pelayanan maupun dalam menulis karya ilmiah (Skripsi)

KD 1. Menjelaskan sejarah dan Fungsi Bahasa Indonesia secara umum maupun pelayanan Gereja
           Indikator:
           1. Menjelaskan sejarah Bahasa Indonesia
           2. Menjelaskan Fungsi Bahasa Indonesia (hanya sebagai contoh, silakan lengkapi KD berikut 
               dengan indikator yang diperlukan)
         
KD 2. Menjelaskan pembakuan Bahasa Indonesia
KD 3. Menjelaskan Ragam Bahasa Indonesia
KD 4. Menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar
KD 5. Menjelaskan Diksi, Kalimat dan Paragraf
KD 6. Praktik membuat karangan, surat dan laporan penelitian
KD 7. Berbahasa Indonesia secara baik dan  

       6.      Mata Kuliah Logika

Standar Kompetensi:

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang logika, berpikir logis dan menerapkannya dalam tugas akademis maupun pelayanan gereja dan sekolah.

KD 1. Menjelaskan pengertian logika, logika Natural dan tradisional
KD 2. Menguraikan logika formal, simbolik, proposional dan kuantifikasional
KD 3. Menjelaskan Logika Indiktif
KD 4. Menuraikan Logika Deduktif
KD 5. Mengjelaskan Analogis
KD 6. Mengemukakan pendapat tentangKausalitas
KD 7. Menjelaskan Hipotesa dan Probabilitas

      7.      Metode Penelitian

Standar Kompetensi:

Mahasiswa mampu menjelaskan dasar-dasar teori metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif serta merancang dan melaksanakan serta melaporkan hasil penelitian dalam bidang teologi maupun pendidikan Kristen

      8.      Psikologi Umum

Standar Kompetensi:

Mahasiswa memiliki kemampuan pengetahuan psikologi dan menerapkannya dalam pelayanan kependidikan gereja maupun pelayanan pastoral

KD 1. Menjelaskan pengertian psikologi
KD 2. Menjelaskan sejarah lahir dan berkembangnya psikologi
KD 3. Menilai teori-teori psikologi dan menerapkan dalam pelayanan
KD 4. Mengevaluasi berbagai aliran psikologi dan menerapkan yang sesuai dengan nilai
            iman Kristen dalam pelayanan pastoral dan kependidikan Gereja
KD 5. Menjelaskan konsep-konsep perilaku manusia
KD 6. Menjelaskan fungsi jiwa dan faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia
KD 7. Mengevaluasi Teori-teori Kepribadian manusia serta menerapkan dalam 
            pelayanan pastoral dan pelayanan kependidikan Gereja


Monday, May 16, 2016

Presentasi Bahan Ajar dengan Samsung Galaxy Tab 5

Teknologi kian lama berkembang secara canggih. Khususnya teknologi berbasis Handphone yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mendampingi kita dalam mempresentasikan bahan ajar, bahan khotbah, bahan seminar seperti seminar Pendidikan Agama Kristen, Seminar Pertumbuhan Gereja, Seminar Teologi, Seminar Musik Gereja, Seminar Pemuda bagi Kristus, Seminar Remaja, seminar guru Sekolah Minggu dll.
Untuk keperluan ini kita dapat memilih media seperti: Samsung, khususnya Samsung Galaxy Tab 5 dan terkini. Semuanya dapat kita pakai untuk presentasi bahan kita.


Saturday, April 23, 2016

Contoh Bab IV Disertasi untuk penelitian kualitatif

Contoh Bab IV dari Disertasi Yonas Muanley (Milik pribadi yang belum dipublikasikan secara online, baru dipublikasikan melalui weblog STT Lukas Online). Tujuan dari publikasi ini yaitu memberi masukan kepada para peneliti di Sekolah Tinggi Teologi untuk Bidang Pendidikan AGama Kristen yang sedang mencari bentuk penelitian Kualitatif dengan mengadakan penelitian lapangan.
Bentuk penelitian kualitatif yang dipakai Yonas Muanley adalah studi mandiri atas sejumlah teori penelitian kualitatif yang dipakai untuk mewujudkan bentuk Bab IV dari penelitian kualitatif yang dipakai Yonas Muanley. Mungkin ini merupakan salah satu bentuk penelitian kualitatif yang dipakai Yonas Muanley dalam konteks Sekolah Teologi, khususnya konsentrasi Pendidikan Kristen di Indonesia. Kebanyakan yang dipakai di Sekolah Tinggi Teologi sejak tahun 2005 adalah penelitian kualitatif yang dikuantitatifkan dengan analisis data memakai olah data secara statistik. Namun dalam penelitian kualitatif yang dilakukan Yonas Muanley tetap menggunakan pendekatan kualitatif (latar natural dari tempat penelitian).
Berikut contoh Bab IV dari Analisa Data secara kualitatif atau Contoh Bab IV. Namun perlu diingat bahwa contoh ini bukan merupakan satu-satunya model yang dipakai, masih ada model yang lain. Silakan mengadakan studi mandiri kemudian dipakai dalam penelitian mandiri atau penelitian mahasiswa.
Saya sangat senang karena hasil penelitian yang saya kemukakan dalam bab IV merupakan bentuk studi mandiri yang saya lakukan beberapa tahun kemudian saya menemukan model Bab III dan IV penelitian kualitatif yang mengadakan penelitian lapangan (penelitian yang punya landasan mendarat, bukan penelitian yang berlangsung di awan-awan tanpa tahu kapan mendarat. Itulah penelitian pustka tanpa penelitian lapangan). Silakan lihat Bab III penelitian Kualitatif: klik disni, kemudian teruskan ke Bab IV penelitian kualitatif berikut ini.


BAB IV
PAPARAN DAN TEMUAN PENELITIAN


Bab IV disetasi ini dikembangkan dalam dua pembahasan, yaitu gambaran umum objek penelitian dan temuan penelitian. Kedua pokok itu dilakukan sebagai berikut.

     A.    Gambaran umum Objek Penelitian

Penelitian pada prinsipnya memiliki objek penelitian, objek penelitian dalam penelitian mahasiswa (disertasi) ini yaitu peserta didik dan pendidik yang melakukan kegiatan proses pembelajaran di Sekolah Tinggi Teologi. Beberapa STT yang dipilih yaitu STT IKSM Santosa Asih, STT Rahmat Emmanuel, STT Arrabona dan STT Paulus.
STT IKSM Santosa Asih terletak di Condet Jakarta Timur (Depan Las DKI Jakarta Timur). STT Rahmat Emmanuel berada di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sedangkan STT Arrabona berada di wilayah Cilengsi, wilayah Bogor Propinsi Jawa Barat. Sedangkan STT Paulus terletak di Desa Mukti Jaya, Cigelam Bekasi, Jawa Barat.
Mahasiswa yang berada di empat STT di atas berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Memiliki karakter dan budaya yang berbeda pula. Fasilitas yang dimiliki sekolah pun berbeda-beda, ada yang memiliki kampus tersendiri, dan ada pula yang menyewa tempat perkuliahan.
Fasilitas belajar, seperti papan tulis dinilai memilki kelayakan, alat-alat menulis seperti spidol tersedia, media pembelajaran, khususnya LCD/Infocus terbatas sehingga tidak semua dosen memakai LCD/infokus dalam proses pembelajaran atas mata kuliah yang diasuh dosen.
Waktu belajar, ada yang pada pagi hari yaitu mulai pukul 08.00 – 12.00, ada pula kuliah siang yaitu pukul 13.30 – 15.20 untuk mata kuliah yang berbobot 2 sks. Ada pula yang melaksanakan kuliah pada sore hari sampai malam yaitu mulai pukul 16.00 – 21.00.  

      B.     Temuan Penelitian

Penelitian apapun selalu memiliki ontology (hakikat realitas yang diteliti), dan epistemology (membangun pengetahuan yang sesuai dengan hakekat realititas yang diteliti), dan aksioligi (kemanfaatan hasil penelitian). Dalam penelitian ini hakekat salah satu dari sekian banyak realitas (ada) yang diteliti oleh penulis adalah pembelajaran (peserta didik dan pendidik),  pengetahuan yang hendak dibangun adalah efektivitas proses pembelajaran atau tercapainya tujuan pembelajaran yaitu perubahan pada peserta didik yang meliputi domein kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka dalam kajian teori telah ditemukan teori efektivitas proses pembelajaran, yang selanjutnya ditetapkan dalam penelitian ini menjadi landasan dalam meneliti efektivitas proses pemelajaran dengan beberapa variable bebas yang mempengaruhi efektivitas tersebut. Teori efektivitas proses pembelajaran yang dimaksud yaitu menurut Wina Sanjaya (2011:59), efektivitas pembelajaran teriri atas: tujuan, isi/materi, metode, media, evaluasi.  
Dalam konteks epistemology penelitian variable efektivitas sebagaimana yang dimaksud di atas (menurut teori Wina sanjaya), apakah pengetahuan ini benar, yakni efektivitas proses pembelajaran dapat terjadi dalam diri peserta didik bila dosen telah merumuskan tujuan pembelajaran, dan berusaha memakai proses-proses seperti: memilih materi yang cocok dengan tujuan yang hendak dicapai, menggunakan strategi dan metode sehingga tujuan pembelajaran tercapai, selain itu untuk mencapai efektivitas proses pembelajaran maka penggunaan media menjadi hal yang penting, dan untuk mengetahui bahwa tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai maka digunakan evaluasi atau penilaian.
Secara epistemology dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah persesuaian antara pengetahuan dengan realitas (validitas). Pengetahuan yang benar adalah sesuai dengan kenyataan yaitu objek yang diteliti. Dalam konteks pemahaman demikian maka disebar instrument kepada objek penelitian yaitu para mahasiswa di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel. Artinya apakah yang dikatakan dalam teori efektivitas proses pembelajaran yaitu bahwa untuk terjadinya belajar yang efektif dalam diri peserta didik maka unsure-unsur yang harus ada dan dikelola secara baik yaitu (1) merumuskan tujuan mata kuliah, (2) memilih materi, (3) memakai metode, (4) memakai media, (5) mengadakan evaluasi untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Benarkan demikian pada peserta didik (mahasiswa) di STT?
Untuk maksud inilah disebarkan angket kepada mahasiswa di STT IKSM Santosa Asih, STT Arrabona, STT Rahmat Emanuel sebagai dasar empiris (kenyataan), kenyataan lapangan yaitu pada objek yang diteliti. Di sini penulis menggunakan kebenaran teori dan kebenaran empiris (fakta lapangan) yaitu apakah para mahasiswa mengalami perubahan belajar dalam diri mereka atas setiap mata kuliah karena menemukan dosen di STT yang memulai kuliah dengan perumusan tujuan yang jelas dan dikomunikasikan kepada mahasiswa, apakah benar bila dosen memakai materi kuliah yang baik maka akan tercapai tujuan pembelajaran, apakah benar jika dosen memakai media dalam proses pembelajaran maka peserta didik akan mengalami perubahan (kognitif, afektif dan psikomotorik), apakah benar teori yang menyatakan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran maka diperlukan evaluasi atau penilaian.? Semuanya ini akan dibuktikan berdasarkan penelitian lapangan dengan cara menyebarkan angket dan dianalisis secara kualitatif.
Pemahaman yang sama juga dihubungkan pada variable-variabel bebas yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel. Artinya, apakah kompetensi paedagogik dalam hal merumuskan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indicator-indikator mempunyai pengaruh terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel (fakta empiris/penelitian lapangan), apakah motovasi berprestasi dosen mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran?, apakah itegrasi pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran yaitu terjadi perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik (mahasiswa) di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel? Apakah pemanfaatan weblog (blog) yang gratis seperti wordpress dan blogspot mempengaruhi mahasiswa di STT dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan?
Berdasarkan maksud yang demikian (yang telah dipaparkan di atas), maka temuan-temuan dalam penelitian disertasi ini difokuskan kepada masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian, yaitu:
(1)  Bagaimana efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
(2)  Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
(3)  Bagaimana pengaruh motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
(4)  Bagaimana pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus
terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
(5)  Bagaimana pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
(6)  Bagaimana pengaruh kompetensi paedagogis dosen, motivasi berprestasi dosen, pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus, pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran secara sendiri-sendiri dan bersama-sama berpengaruh terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?

1.      Efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM SA, STTP, STTA, STTRE

Temuan data pada variable efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM SA, STTP, STTA, STTRE dapat diperoleh berdasarkan hasil sebaran angket kepada mahasiswa yang dipaparkan sebagai berikut:
Sebelum memaparkan hasil angket maka pedoman angket ini adalah bertolak dari definisi konseptual dan operasional dari variable Y yaitu efektivitas proses pembelajaran adalah penilaian mahasiswa terhadap efektivitas tercapainya tujuan pembelajaran yang mereka alami pada waktu mengikuti kuliah untuk setiap mata kuliah yang dilaksanakan di STT IKSM SA, STT Rahmat Emmanuel, STT Paulus, STT Arrabona (variable terika/ Y). Ini berarti apa yang ada dalam angket adalah penilaian mahasiswa.
Alternatif penilaian: 
4/1. SE = Sangat efektif
3/2/  E = Efektif
2/3   KE = kurang efektif
1/4  TE = Tidak Efektif


INSTRUMEN (Y): Efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM SA, STTP, STTA, STTRE
No

Pernyataan
Jml responden yg memilih pernyataan
SE
Jml responden yg memilih pernyataan
E
Jml responden yg memilih pernyataan
KE
Jml responden yg memilih pernyataan

TE
1
Dosen pengasuh Mata kuliah mencantumkan/menyebutkan/menyampaikan rumusan standar kompetensi atas mata kuliah yang diasuh

42

20

3

-
2
Dosen pengasuh Mata kuliah tidak mencantumkan/menyampaikan standar kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah yang diasuhnya
7
11
26
21
3
Mata kuliah yang diasuh dosen memiliki Beberapa Kompetensi dasar
25
32
7
1
4
Setiap Kompetensi Dasar memiliki beberapa indicator
25
37
1
2
5
Dosen mata kuliah memiliki kejelasan akan tujuan dan usaha untuk mencapai tujuan tersebut
31
32
1
1
6
Dosen melakukan proses belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik
41
23
1
-
7
Dosen memakai prosedur pembelajaran yang tepat
28
29
6
2
8
Dosen mampu mengelola suatu situasi pembelajaran
25
34
6
-
9
Dosen mata kuliah mampu melakukan proses pembelajaran bersistem
29
34
2
-
10
Dosen mata kuliah sensitive terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan pembelajar
12
20
22
11
11
Dosen mata kuliah merekonstruksi pengetahuan baru yang bertolak dari kemampuan peserta didik
18
25
11
11
12
Dosen mata kuliah berusaha untuk pembelajaran yang bermanfaat melalui pemakaian prosedur yang benar
12
50
3
-
13
Dosen mata kuliah melakukakan pembelajaran yang berkriteria daya tarik atau daya guna
20
33
9
-
14
Dosen mata kuliah mengorganisasi kuliah dengan baik melalui perumusan tujuan yang baik
31
27
4
1
15
Dosen mata kuliah mengorganisasi kuliah dengan baik melalui pemilihan materi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
32
27
2
2
16
Dosen mata kuliah memilih materi yang relevan dengan kompetensi yang akan dicapai
25
32
5
2
17
Dosen mata kuliah memilih materi kuliah yang sesuai dengan perubahan kognitif
16
33
11
5
18
Dosen mata kuliah memilih materi kuliah sesuai dengan perubahan afektif
15
37
11
11
19
Dosen mata kuliah memilih materi kuliah sesuai dengan perubahan psikomotorik
14
32
16
3
20
Dosen mata kuliah memilih materi yang mutahir/yang terkini
5
22
25
12
21
Dosen mata kuliah memilih materi kuliah sesuai dengan kompetensi/perubahan yang diinginkan terjadi dalam diri peserta didik
16
23
11
2
22
Dosen mata kuliah menyajikan bahan kuliah di dalam cara yang teratur
27
27
9
1
23
Dosen mata kuliah menyebutkan strategi yang akan dipakai dalam proses pembelajaran
22
24
16
3
24
Dosen mata kuliah merinci strategi pembelajaran yang akan dipakai dalam proses pembelajaran atas mata kuliah yang diasuhnya
20
23
16
3
25
Dosen mata kuliah mempersiapkan diri untuk kelasnya
34
26
11
1
26
Dosen mata kuliah menjelaskan pokok yang akan dipelajari
40
18
3
4
27
Dosen mata kuliah mengusahakan proses kuliah secara baik sehingga dapat memungkinkan diikuti oleh mahasiswa secara baik
33
28
3
1
28
Dosen mata kuliah memakai strategi kognitif dalam menyajikan bahan kuliah
4
35
14
4
29
Dosen mata kuliah memakai strategi afektif dalam menyampaikan bahan kuliah
19
34
11
-
30
Dosen mata kuliah berkomunikasi secara efektif di kelas
33
24
5
2
31
Dosen mata kuliah memakai strategi dan metode (komunikasi secara efektif)
23
34
7
1
32
Dosen mata kuliah memakai ragam metode pembelajaran
21
31
10
2
33
Dosen mata kuliah memakai metode yang cocok untuk perubahan pada ranah kognitif mulai dari tingkat pengetahuan sampai  sampai penilaian
14
14
14
2
34
Dosen mata kuliah memakai metode yang cocok untuk perubahan pada ranah afektif dari tingkat menerima sampai menghayati
34
14
14
2
35
Dosen mata kuliah memakai metode yang cocok untuk perubahan psikomotorik dari tingkat peniruan sampai pengalamiahan atau naturalisasi
15
28
18
3
36
Dosen mata kuliah memakai media untuk menarik perhatian mahasiswa mengikuti kuliah
24
18
16
1
37
Dosen mata kuliah membuat media sendiri untuk mata kuliahnya
21
23
15
5
38
Dosen mata kuliah memakai media LCD/Infocus
21
30
12
2
39
Dosen mata kuliah menyajikan mata kuliah secara jelas
16
34
15
-
40
Dosen mata kuliah memiliki kelancaran berbicara di kelas
32
27
6
-
41
Dosen mata kuliah mampu menginterpretasi gagasan-gagasan abstrak dengan contoh-contoh yang jelas
27
27
6
3
42
Dosen mata kuliah memiliki kemampuan wicara dengan nada yang jelas didengar mahasiswa
38
22
4
1
43
Dosen mata kuliah memiliki kemapuan intonasi suara
33
24
5
2
44
Dosen mata kuliah mampu menunjukkan ekspresi yang bersahabat dengan mahasiswa
39
21
4
1
45
Dosen mata kuliah mampu menulis Kontrak pembelajaran, silabus, RPP yang jelas dan mudah dipahami
35
23
5
2
46
Dosen mata kuliah memiliki penguasaan dan antusiasme dalam mata kuliah yang diasuhnya
30
28
3
4
47
Dosen mata kuliah mampu menghubungkan isi kuliahnya dengan apa yang telah diketahui mahasiswa
20
35
8
1
48
Dosen mata kuliah mampu mengkaitkan isi kuliah dengan perkembangan yang terbaru dalam disiplin keilmuannya
15
49
8
1
49
Dosen mata kuliah mengadakan penelitian untuk mata kuliah yang diasuhnya
25
25
10
4
50
Dosen mata kuliah memiliki sikap positif terhadap mahasiswa dengan jalan member bantuan jika mahasiswa mengalami kesulitan dengan bahan kuliahnya
25
33
5
-
51
Dosen mata kuliah mendorong mahasiswa untuk bertanya atau memberi pendapat
21
34
9
-
52
Dosen mata kuliah dapat dihubungi mahasiswa di luar kelas
21
34
9
5
53
Dosen mata kuliah peduli terhadap apa yang dipelajari mahasiswa
34
19
9
2
54
Dosen mata kuliah sejak awal kuliah memberi informasi kepada tentang system penilaian yang meliputi kehadiran, tugas terstruktur (Paper, makalah, risensi dll)
42
19
1
-
55
Dosen mata kuliah member tugas sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
35
29
1
-
56
Dosen mata kuliah memberi bobot yang jelas atas setiap pokok-pokok penilaian
36
24
3
1
57
Dosen mata kuliah memberi soal UTS sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai (soal berdasarkan silabus)
28
37
-
-
58
Dosen mata kuliah member soal UAS yang sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai
34
29
2
-
59
Dosen mata kuliah membuat soal ujian berdasarkan indicator dari setiap kompetensi dasar yang telah dijelaskan
30
21
2
-
60
Dosen mata kuliah membuat soal sesuai dengan bobot prosesntasi yang telah dikemukakan pada pertemuan awal (sesuai silabus)
27
27
7
1
61
Dosen mata kuliah memiliki system penilaian yang telah disepakati (kontrak) dengan mahasiswa
22
31
11
-
62
Dosen mata kuliah tidak memiliki system penilaian yang dikomunikasikan kepada mahasiswa
11
21
10
32
63
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah kognitif yaitu pengetahuan
14
28
10
1
64
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah kognitif yaitu pemahaman
18
34
9
-
65
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah kognitif yaitu penerapan
14
42
6
1
66
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah kognitif yaitu analisis
19
32
10
2
67
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah kognitif yaitu sintesis
16
31
15
-
68
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah kognitif yaitu penilaian
29
29
5
-
69
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah afektif yaitu menerima
24
25
4
1
70
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah afektif yaitu menanggapi
15
40
7
1
71
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah afektif yaitu menilai/menghargai
13
42
6
1
72
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah afektif yaitu mengeloal atau mengatur diri
8
34
21
-
73
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah afektif yaitu menghayati
8
34
21
-
74
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah psikomotorik yaitu peniruan
26
26
9
2
75
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah psikomotorik yaitu penggunaan
25
19
9
2
76
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah psikomotorik yaitu artikulasi/perangkaian
21
26
8
11
77
Dosen mata kuliah mengevaluasi perubahan pada peserta didik dengan soal-soal yang berhubungan dengan ranah psikomotorik  yaitu pengalamiahan/naturalisasi
24
28
11
2


Berdasarkan table data Y di atas dapat dianalisis butir-perbutir pernyataan berkenaan dengan efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM SA, STTP, STTA, STTRE sebagai berikut.
Berdasarkan jawaban responden dalam table di atas, penulis memilih jawaban-jawaban yang berkait dengan lima komponen efektivitas, yaitu: tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi.
Efektivitas proses pembelajaran yang berkenaan dengan Tujuan
Pernyataan no. 1- 5
Jawaban atas pernyataan 1. 65 responden memberi jawaban yang berbeda atas pernyataan 1, 42 responden memilih SE (sangat efektif), 20 responden memilih E (efektif), 3 responden memilih KE (kurang efektif). Data ini menunjukkan bahwa tercapainya efektivitas proses pembelajaran disebabkan karena dosen pengasuh mata kuliah merumuskan/menyebutkan/menyampaikan standar kompetensi (tujuan mata kuliah) atas mata kuliah yang diasuhnya. 42 responden memilih sangat efektif bila dosen merumuskan standar kemampuan yang hendak dicapai. Jadi dapat disimpulkan bahwa rumusan tujuan yang jelas akan mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dalam diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menjadi arah bagi peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar, hal ini dibuktikan dengan sebaran angket terhadap 65 orang mahasiswa di STT, dan 42 menjawab “sangat efektif”. Sementara pilihan efektif hanya 20 responden, 3 responden menyatakan kurang setuju.
Selanjutnya kisaran jawaban responden terhadap pentingnya perumusan tujuan pembelajaran sebagaimana yang terwakili dalam pernyataan 1-5, pilihan responden adalah 25 – 37 responden memilih alternative jawaban pada area sangat efektif dan efektif bila dosen merumuskan tujuan pembelajaran dan menyampaikannya kepada mahasiswa.
Jawaban atas pernyataan no. 2.  Berdasarkan instrument yang disebar oleh penulis kepada 65 responden mahasiswa di STT, ditemukan bahwa dosen pengasuh mata kuliah yang tidak mencantumkan/menyebutkan/menyampaikan tujuan mata kuliah (standar kompetensi) yang hendak dicapai mahasiswa, maka jawaban menunjukkan 7 responden memilih SE (sangat efektif), 11 responden memilih 11 E (efektif), 26 responden memilih kurang efektif, dan 21 responden memilih tidak efektif. Artinya bila dosen tidak mencantumkan tujuan mata kuliah atas mata kuliahnya dan menyampaikan kepada mahasiswa, atau tidak dicantumkan dalam silabus maka pengaruhnya adalah kurang efektif proses pembelajaran, hal ini Nampak dari 26 respon mahasiswa di STT yang memilih alternative pernyataan kurang efektif (KE) dalam instrument yang disebar. Dengan demikian patut dipertegas disini bahwa bila dosen tidak merumuskan tujuan secara jelas maka kurang efektif menolong mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran. Perumusan tujuan pembelajaran yang baik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT. 
Efektivitas proses pembelajaran yang berhubungan dengan materi kuliah
Pernyataan dalam angket yang berhubungan dengan materi adalah pernyataan no. 16 – 21. Dari 65 responden, 25 responden memilih sangat efektif (SE), 32 responden memilih efektif (E), 5 responden memilih kurang efektif (KE), dan 2 responden memilih tidak efektif (TE) atas pernyataan dosen mata kuliah memilih materi kuliah sesuai dengan tujuan (kompetensi) yang akan dicapai. Artinya mahasiswa di STT menyatakan bahwa pemilihan materi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran (kemampuan yang hendak diwujudkan) menolong mereka yaitu 25 menyatakan sangat efektif menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran, 32 mahasiswa menyatakan efektif menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran. 
Kemampuan dosen memilih materi yang berhubungan dengan perubahan pada domein kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam table yaitu pada pernyataan no. 16 – 19, dengan ragam pilihan yang berbeda, akan pernyataan no. 16 yaitu dosen mata kuliah memilih materi kuliah yang relevan dengan kompetensi yang akan dicapai, 25 responden memilih sangat efektif, dan 32 memilih efektif. Ini berarti 25 responden menyatakan pemilihan materi kuliah yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai membuat mahasiswa sangat efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan 32 menyatakan pemilihan materi kuliah yang sesuai kompetensi menyebabkan mereka efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu perubahan yang terjadi dalam diri mereka. 5 orang memilih kurang efektif, dan 2 orang memilih tidak efektif.  Akan kenyataan ini dapat diduga bahwa 7 responden patut diwawancara, untuk mengetahui apa alasan memilih pernyataan demikian. Bagian ini dalam penelitian kualitatif disebut dengan pengujian validasi data dan realibilitas data. Uji kredibilitas data dalam penelitian kualitatif dilakukan melalui trianggulasi. Yang dimaksud dengan Triangulasi adalah pengecekkan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.  
Dalam kasus di atas, dapat diadakan triangulasi sebagai berikut:
1.      Triangulasi sumber (Triangulasi dengan tiga sumber data)

Kasus responden diatas dapat dilakukan melalui tiga triangulasi di atas, bila dipakai triangulasi teknik pengumpulan data maka 7 responden di atas mesti diwawancarai dan diobservasi karena teknik yang sudah dipakai adalah kuesioner. Selain itu, kasus di atas (responden yang memilih pernyataan no. 16) dapat dilakukan
 dalam triangulasi waktu, kuesioner disebar pada siang, jam-jam mahasiswa mempersiapkan diri untuk makan.
Metode Pembelajaran.
Metode pembelajaran merupakan salah satu komponen proses pembelajaran. Metode pembelajaran berkait erat dengan strategi pembelajaran. Artinya strategi pembelajaran yang dipakai turut menentukan metode seperti apa yang cocok dipakai ketika berasa di ruang kuliah atau dalam proses pembelajaran.
Dalam kajian teori (bab II) ditemukan bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran maka salah satu komponen yang patut diperhatikan adalah metode pembelajaran. Penggunaan metode yang tepat mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran.
Berdasarkan sebaran angket kepada mahasiswa di STT IKSM, STT Arrabona dan STT Rahmat Emmanuel yang telah direkap dalam table variable pada pernyataan no. 28 – 35 menunjukkan bahwa dari 65 responden (mahasiswa yang diteliti), 4 mahasiswa menilai penggunaan strategi itu sangat efektif (SE) menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran dari setiap mata yang diasuh oleh dosen, 35 responden (mahasiswa dari 3 STT) memilih pernyataan efektif. Artinya 35 responden ini menilai bahwa penggunaan strategi dan metode yang tepat menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran, 14 responden memilih kurang efektif (KE), 14 responden ini menilai bahwa strategi dan metode yang dipakai kurang efektif menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran (standar kompetensi, Kompetensi Dasar serta indicator) yang telah ditetapkan dosen, 4 responden menilai bahwa pemakai strategi dan metode tidak menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran. Keempat responden ini memang harus diwancarai akan alasan mereka menilai demikian.
  Pernyataan selanjutnya dari no 29  - 39 yang masih terkait dengan penggunaan metode yang memungkinkan mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran. Angka-angka (jumlah responde) yang memilih pernyataan Sangat Efektif dan Efektif berkisar pada angka 14 – 35, jumlah responden yang memilih pernyataan ini dapat ditafsirkan bahwa metode sangat menolong mereka dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan jumlah responden yang memilih kurang efektif (KE) dan tidak efektif (TE) berkisar pada 1- 5 responden. Jumlah yang tidak signifikan.
Berdasarkan bukti penilaian mahasiswa tersebut di atas (terwakili dalam angket, dan dituangkan dalam tabulasi data, yaitu dalam table variable Y menunjukkan angka yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemakaian strategi dan metode dalam proses pembelajaran mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu perubahan pada domein kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi, secara empiris ditemukan bahwa mahasiswa yang menilai pengaruh metode terhadap tujuan belajar berada pada jumlah responden yang memadai yang kisarannya tertingginya pada 34 dari 65 responden (mahasiswa yang member penilaian).
Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan komponen ke-4 dari 5 komponen efektivitas (baca: tercapainya tujuan) proses pembelajaran di STT. Banyak kegunaan dari menggunakan media dalam sebuah proses pembelajaran. Kegunaan tersebut prosentasinya sangat besar sebagaimana yang ditemukan dalam kajian teori.
Berdasarkan penelitian lapangan (sebarab angket) ke 65 responden dari STT IKSM SA, STTA, STTRE menunjukkan bahwa pernyataan no. 36 – 53 yang berkenaan dengan penggunaan media dan aspek-aspek terait dengan proses pembelajaran ditemukan bahwa jumlah responden yang memilih pernyataan Sangat Efektif dan Efektif berada pada jumlah 16 – 49 responden, sedangkan pada pernyataan kurang efektif dan tidak efektif, pilihan responden berada pada kisaran 1- 5 responden.
Jadi, dapat dikatakan bahwa ada pengaruh penggunaan media terhadap tercapainya tujuan pembelajaran di STT. Bila setiap mata kuliah yang diasuh dosen menggunakan media yang relevan dengan ranah kognitif, afektif dan psikomorotik maka mahasiswa akan mengalami ketercapaian tujuan pembelajaran. Ini sesuai dengan aspek empiris penelitian ini yaitu bahwa mahasiswa di STT 16 - 49 yang memilih sangat efektif dan efektif ketika seorang dosen menggunakan media dalam proses belajar. Dengan kata lain, responden yang menjawab sangat efektif dan efektif mengakui bahwa penggunaan media mempunyai pengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.
Evaluasi

Evaluasi adalah komponen yang terakhir dari 5 komponen proses pembelajaran. Evaluasi bertujuan mengetahui sejauh mana mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran, dan sejauh mana dosen berhasil mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Pernyataan no. 54 – 77 berkait dengan evaluasi. Untuk pernyataan no. 54 yaitu dosen mata kuliah sejak awal kuliah memberi informasi kepada mahasiswa tentang system penilaian yang meliputi kehadiran dengan bobot skor yang jelas, tugas terstruktur (paper, makalah, risensi dll). Akan pernyataan ini dari 65 responden, 42 responden/mahasiswa menilai Sangat Efektif (SE) menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran, 19 responden menilai efektif (E) menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran, 1 responden menilai kurang efektif menolongnya mencapai tujuan pembelajaran. Pernyataan no. 55 yaitu dosen mata kuliah member tugas sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, 35 responden menilai Sangat Efektif (SE), 29 menilai Efektif (E) menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran, 1 responden menilai kurang efektif menolongnya mencapai tujuan pembelajaran dari setiap mata kuliah.  Untuk UTS dan UAS (pernyataan no. 57 dan 58) soal yang diberi pada saat ujian sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai (soal berdasarkan silabus), 28 reponden menilai Sangat Efektif soal UTS menolong mereka membuktikan ketercapaian tujuan, 37 responden menilai Efektif menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran. UAS, 34 responden memilih sangat efektif, dan 29 responden menilai efektif, 2 responden menilai kurang efektif.
            Singkatnya penilaian mahasiswa pada aspek evaluasi sebagaimana yang terwakili dalam setiap pernyataan no. 54 – 77 berada pada angka responden yang baik untuk menyimpulkan bahwa evaluasi menolong peserta didik untuk mengetahui sejauh mana tujuan telah tercapai. Rentang pilihan Sangar efektif dan efektif berada pada 11 – 42. Angka 11 itu dihitung dari jumlah terendah dari 11 responden yang menilai sangat efektif dari evaluasi yang menolong mereka mencapai tujuan pembelajaran.
4.      Motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
Temuan data pada variable motivasi berprestasi dosen dengan efektivitas proses pembelajaran di STT disesuaikan dengan definisi konseptual dan variable kompetensi paedagogik yaitu  kompetensi paedagogik (x1) adalah penilaian mahasiswa terhadap kemampuan dosen dalam menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator-indikator ketercapai kompetensi dasar atas mata kuliah yang di asuh di STT. Data penilaian mahasiswa di STT yang telah diperoleh melalui angket dapat dipaparkan sebagai berikut.
Kompetensi Paedagogik (x1) adalah penilaian mahasiswa terhadap kemampuan menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar di STT.
Singkatan:
SE       : Sangat Efektif
E          : Efektif
KE       : Kurang Efektif
TE       : Tidak Efektif
No
Pernyataan
Jml responden yg memilih
SE

Jml responden yg memilih
E


Jml responden yg memilih
KE
Jml responden yg memilih
KE
1
Dosen menyampaikan standar kompetensi mata kuliah yang hendak dicapai peserta didik untuk satu semester pada pertemuan pertama perkuliahan
38
22
2
1
2
Dosen menjelaskan secara baik standar kompetensi yang akan dicapai oleh mahasiswa pada satu semester
28
34
1
-
3
Dosen tidak menyampaikan standar kompetensi yang akan dicapai mahasiswa
7
20
14
21
4
Dosen merumuskan standar kompetensi secara jelas sehingga menolong mahasiswa untuk mencapainya
28
32
3
-
5
Standar kompetensi yang disusun dosen menggambarkan perubahan seperti apa yang dikehendaki dosen untuk terjadi dalam diri peserta didik setelah mengikuti mata kuliahnya.
19
35
8
1
6
Dosen merumuskan standar kompetensi dengan memakai kata kerja operasional yang berorientasi pada domein kognitif

15
35
12
1
7
Dosen merumuskan standar kompetensi dengan memakai kata kerja operasional yang berorientasi pada domein afektif

29
20
14
-
8
Dosen merumuskan standar kompetensi dengan memakai kata kerja operasional yang berorientasi pada domein psikomotorik

27
25
9
2
9
Dosen merumuskan standar kompetensi dengan memakai kata kerja operasional yang mewakili ranah kognitif, afektif dan psikomotorik
26
21
13
3
10
Rumusan standar kompetensi yang dirumuskan dosen menolong peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran
29
31
-
-
11
Dosen mampu memilih kata kerja operasional yang relevan untuk standar kompetensi
27
30
-
1
12
Dosen mampu membagi standar kompetensi dalam beberapa kompetensi dasar untuk satu semester
33
25
6
-
13
Dosen memakai kata-kata operasional yang relevan untuk setiap kompetensi dasar lebih
20
37
4
1
13
Rumusan setiap kompetensi dasar hanya berorientasi pada perubahan domein kognitif dalam diri peserta didik
33
24
5
1
14
Rumusan setiap kompetensi dasar hanya berorientasi pada perubahan domein afektif dalam diri peserta didik
12
24
5
1
15
Rumusan setiap kompetensi dasar hanya berorientasi pada perubahan domein psikomotorik dalam diri peserta didik
17
36
8
1
16
Rumusan setiap kompetensi dasar berorientasi pada perubahan domein kognitif, afektif, psikomotorik dalam diri peserta didik
12
41
8
1
17
Dosen mampu membagi kompetensi dasar menjadi beberapa indikator
19
35
8
-
18
Dosen mampu merumuskan indiaktor-indikator dari setiap kompetensi dasar dalam kata kerja operasional yang relevan sehingga memudahkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran
23
35
4
-
19
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah kognitif mulai dari tingkat yang rendah yaitu pengetahuan dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
21
25
6
-
20
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah kognitif mulai dari tingkat yang tinggi dari pemahaman yaitu penerapan  dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
14
38
9
1
21
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah kognitif mulai dari tingkat yang tinggi dari penerapan yaitu analisis  dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
17
40
5
-
22
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah kognitif mulai dari tingkat yang tinggi dari analisis ke sintesis dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
27
32
9
-
23
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah kognitif mulai dari tingkat yang tinggi dari sintesis ke tingkat yang lebih tinggi yaitu penilaian dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
31
18
13
-
24
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah afektif mulai dari tingkat menerima dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
28
22
12
-
25
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah afektif mulai dari tingkat menerima ke menanggapi dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
18
30
14
1
26
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah afektif mulai dari tingkat menangapi ke menilai/menghargai dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
17
34
10
1
27
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah afektif mulai dari tingkat menilai/menghargai ke mengelola/mengatur diri dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
19
21
11
1
28
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah afektif mulai dari tingkat mengelola ke menghayati dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
15
35
12
-
29
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah psikomotorik mulai dari tingkat peniruan dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
14
39
9
-
30
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah psikomotorik mulai dari tingkat menerima ke manipulasi/penggunaan dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
15
36
10
-
31
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah psikomotorik mulai dari tingkat manipulasi ke artikulasi/perankaian dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
18
26
17
-
32
Dosen mampu merumuskan perubahan pada ranah psikomotorik mulai dari tingkat artikulasi ke pengalamiahan/naturalisasi dengan memakai kata kerja operasional yang relevan
14
32
15
-

5.      Motivasi berprestasi dosen terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel?
Motivasi Berprestasi dosen adalah penilaian mahasiswa terhadap motivasi berprestasi dosen yang di STT
Singkatan:
SB       = Sangat bermotivasi
Bi        = Bermotivasi
KB      = Kurang Bermotivasi
TB       = Tidak bermotivasi

No
Pernyataan
Jlm yg memilih
SB
Jlm yg memilih
Bi
Jml
Yg memilih
KB
Jml yg memilih
TB
1
Melakukan tugas mengajar karena sadar akan tugas instruksional (amanat) Yesus untuk mengajar
41
20
-
1
2
Memahami bahwa mengajar adalah bagian dari pelayanan Yesus Kristus yang harus dilakukan secara bertanggung jawab
36
25
-
1
3
Mengajar adalah tugas Kristus untuk member perubahan pada peserta didik dalam perubahan mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi, hati dan kekuatan
14
44
3
1
4
Mengajar adalah Mengasihi Tuhan dengan segenap pikiran, hati dan kekuatan
17
45
-
1
5
Pengaruh Doa instruksional terhadap tugas pengajaran
37
20
4
1
6
Doa memberi semangat baru untuk mengajar
35
23
3
1
7
Dosen mata kuliah sadar bahwa melalui doa ada sebuah kekuatan baru untuk melaksanakan tugas mengajar yang efektif
43
17
1
1
8
Dosen mata kuliah berusaha unggul dalam mengajar
27
32
1
2
9
Dosen mata kuliah peduli pada hasil unggul dalam mengajar
30
25
7
-
10
Dosen mata kuliah bersedia untuk berkompetisi dalam mengajar
25
29
7
1
11
Dosen mata kuliah memiliki kesediaan untuk berkompetisi dalam bersaing yang sehat
28
27
7
-
12
Dosen mata kuliah memiliki dan mewujudkan kesediaan untuk berkompetisi dalam berkreasi
30
28
4
-
13
Dosen mata kuliah selalu membenahi kreatifitasnya dalam mengajar
28
27
6
1
14
Dosen menetapkan tujuan dengan pertimbangan (tidak nekad) atau lebih tertarik pada pencapaian pribadi dari pada imbalan yang diperoleh atas keberhasilannya;
22
27
13
1
15
Dosen mata kuliah lebih tertarik pada situasi yang dapat memberikan umpan balik secara konkrit atas hasil kerjanya
15
32
12
1

Dosen Mata kuliah mengerjakan pekerjaan mengajar  sebaik mungkin
33
23
5
1
16
mengerjakan pekerjaan yang menghendaki ketrampilan dan usaha
34
24
4
-
17
Dosen mata kuliah memiliki tanggungjawab dan kehendak untuk mengaktualisasi diriingin mendapatkan pengakuan, tidak hanya dalam mengajar, namun dalam mengerjakan tugas-tugas lain yang terkait dengan proses pendidikan di sekolah Tinggi Teologi
29
25
7
1
18
Dosen  mata kuliah ingin mendapatkan pengakuan, tidak hanya dalam mengajar, namun dalam mengerjakan tugas-tugas lain yang terkait dengan proses pendidikan di sekolah Tinggi Teologi
18
31
12
1


6.      Integrasi Pendidikan karakteristik unggul berdasarkan didaktik Yesus
terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel

Singkatan:
SS        : Sangat setuju
S          : Setuju
KS       : Kurang setujul
TS        : Tidak setuju

Karakteristik Unggul dalam ajaran Yesus yang didasarkan pada Matius 5;1-16 diarahkan pada tujuan penelitian ini yaitu efektivitas proses pembelajaran. Apakah 8 karakteristik unggul itu menyatu dengan mata kuliah dan telah memberi perubahan karakter peserta didik di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel. Dalam hal ini variable karakteristik unggul didefinisikan sebagai penilaian mahasiswa terhadap integrasi pendidikan karakter terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT. Berikut ini penilaian mahasiswa yang direkap dalam bentuk table sbb:

No

Pernyataan
Responden yg memilih
SS
Responden yg memilih
S
Jml
Responden yg memilih
KS
Jml responden yg memilih
TS

Karakteristik  Unggul 1: Miskin di hadapan Allah




1
Dosen mata kuliah mewujudkan hidup miskin/rendah hati dihadapan Allah
41
19
1
1
2
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliahnya dengan nilai rendah hati
36
23
3
-
3
Dosen mata kuliah yang rendah hati mempengaruhi saya untuk rendah hati
39
21
3
-

Karakteristik Unggul ke 2: berdukacita karena dosa




3
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliahnya dengan rasa berduka bila seorang melakukan kesalah
18
37
7
-
4
Dosen menghubungkan mata kuliah dengan nilai kejujuran dalam mengerjakan tugas
31
21
9
1
5
Dosen menghubungkan mata kuliahnya dengan nilai merasa berdu bila seorang berbuat salah
29
20
13
-

Karakteristik Unggul 3: lemah lembut




6
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliahnya dengan nilai perilaku lemah lembut
30
23
8
-
7
Dosen mata kuliah hidup dalam karakteristik lemah lembut
18
34
10
1

Karakteristik Unggul ke 4: lapar dan haus akan kebenaran (rindu akan kehendak Allah)




8
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliah dengan karakter rindu akan kebenaran
38
21
3
-
9
Dosen menghubungkan mata kuliahnya dengan nilai rindu akan kehendak Allah dalam melakukan tugas kuliah yang berhubungan dengan mata kuliah yang diasuh
34
26
2
-
10
Dosen mata kuliah menekakan perilaku yang benar dalam proses pembelajaran
38
21
3
-
11
Dosen mata kuliah menekankan menjauhkan sikap dari pelagirisme
Dll
23
40
7
1

Karakteristik Unggul ke 5: murah hati




12
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliahnya dengan kehidupan orang Kristen yang berkarakter murah hati
29
27
5
-
13
Dosen mata kuliah menekakan sikap murah hati dalam proses perkuliahan
27
29
5
-
14
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliah dengan saling tolong menolong dalam proses pembelajaran mata kuliah yang diasuh
17
39
7
-

Karakter Unggul ke 6:  ke Suci hati




15
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliah dengan karakter suci hati
14
35
13
-

Karakter Unggul  ke -7 : membawa damai




16
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliahnya dengan karakter membawa damai
36
22
3
1
17
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliah dengan karakter kebenaran mata kuliah yang berpengaruh pada membawa damai
27
29
6
-

Karakter Unggul  ke-8: dianiaya sebab kebenaran




18
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliah pada perilaku unggul yaitu siap menderita karane hidup dalam hal-hal yang benar berkait dengan kebenaran mata kuliah
47
7
8
-
19
Dosen menghubungkan mata kuliahnya pada sikap orang yang tidak terpuji terhadap orang yang hidup dalam kebenaran
15
38
9
-
20
Dosen menghubungkan mata kuliahnya dengan konsekwensi menjadi Kristen (hidup dalam kebenaran)
40
11
11
-
21
Dosen mata kuliah menghubungkan mata kuliahnya dengan nilai sikap orang Kristen terhadap penganiayaan karena menjadi Kristen (pengikut Yesus Kristus)
27
29
6
-


7.      Pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran terhadap efektivitas proses pembelajaran di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona, STT Rahmat Emmanuel
Pemanfaatan weblog dalam  proses pembelajaran adalah penilaian mahasiswa terhadap ketercapai tujuan pembelajaran melalui weblog dosen berbasis wordpress dan blogspot. Apakah pemanfaatan weblog mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran setiap mata kuliah bagi mahasiswa di STT IKSM Santosa Asih, STT Paulus, STT Arrabona dan STT Rahmat Emmanuel?
Berikut ini data yang dihimpun dari mahasiswa tentang penilaian mereka terhadap pemanfaatan weblog oleh dosen yang mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Data angket dipaparkan sebagai berikut.
Singkatan:
SE       = Sangat Efektif
Ef        = Efektif
CE       = Cukup Efektif
TE       = Tidak Efektif

No
Pernyataan
Jml yg memilih
SE
Jml yg memilih
Ef
Jumlah yg memilih
CE
Jumlah yg memilih
TE
1
Dosen mata kuliah memanfaatkan weblog/ untuk mencantumkan standar kompetensi untuk mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah yang diasuhnya
23
20
12
6
2
Dosen mata kuliah memanfaatkan weblog/blog untuk mempublikasikan Kontrak Pembelajaran
13
24
18
5
3
Dosen mata kuliah memanfaatkan weblog/blog untuk mempublikasikan Silabus Pembelajaran untuk pengalaman belajar mahasiswa
22
18
12
8
4
Dosen mata kuliah memanfaatkan weblog/blog untuk mempublikasikan bahan ajar secara online dan dapat diikuti oleh mahasiswa
18
25
9
8
6
Dosen mata kuliah memanfaatkan weblog khusus untuk dijadikannya sebagai Bahan Ajar online
14
18
12
10
7
Dosen mata kuliah membuat tombol navigasi untuk kontrak pembelajaran dan silabus
7
27
6
11
8
Dosen mata kuliah membuat tombol navigasi khusus untuk bahan ajar
12
31
7
9
9
Dosen mata kuliah merancang blog sehingga menyenangkan untuk diikuti
24
21
13
1
10
Pemanfaatan blog oleh dosen mata kuliah sangat menolong mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran
18
12
16
4
11
Dosen menata blog dengan template blog yang menyenangkan
17
21
16
3
12
Dosen menyampaikan kepada mahasiswa untuk mengakses mata kuliahnya secara online
23
19
8
8
13
Dosen mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan weblog untuk tugas-tugas mahasiswa
28
17
10
3





pcash

Problem Solving

Semua kegiatan pastilah memiliki tujuan. Demikian pula dalam dunia pendidikan, setiap kegiatan mestia dipahami apa tujuannya. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan strategi dan metode dalam proses pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar diperlukan metode yang tepat. Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.
Metode dalam sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Dalam hal ini, berhasil tidaknya implementasi strategi pembelajaran dan metode pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran. Ada banyak metode yang dapat dipakai, dalam tulisan ini difokuskan pada metode John Dewey, seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Amerika. Metodenya yang terkenal yaitu Metode Problem Solving. Adapun beberapa aspek penting dalam metode Problem Solving yaitu: Pertama, merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang dipecahkan. Kedua, menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang. Ketiga, merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Keempat, mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dari menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. Kelima, pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan. Keenam, merumuskan pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil penguji hipotesis dan rumusan kesimpulan.(Winasanjaya, 2006:217)

Metode Problem Solving merupakan metode yang dilakukan dengan membangkitkan akal dan pengetahuan berpikir peserta didik secara logis. Metode ini adalah metode mendidik dengan membimbing anak didik untuk memahami problema yang dihadapi dengan menemukan jalan ke luar yang benar dari berbagai kesulitan dengan melatih anak didik menggunakan pikirannya dalam manata dan menginventarisasi masalah, dengan cara memilah-milih, membuang mana yang salah, meluruskan yang bengkok dan mengambil yang benar. Metode ini sesuai dengan pernyataan Dewey, bahwa pengalaman adalah suatu proses yang bergerak terus menerus dari satu tahap ke tahap rekonstruksi, sebagaimana problem baru mendorong intelegensi untuk memformulasikan usulan-usulan baru untuk bertindak.